Bisnis Broker Makin “Seksi”….

shutterstock

Jika mitra bisa menjual properti seharga Rp 40 miliar dalam setahun, maka mitra akan mendapat komisi Rp 1,2 miliar atau rata-rata Rp 100 juta per bulan.

TERKAIT:

KOMPAS.com – Pasar properti di Indonesia terus menggeliat dalam beberapa tahun terakhir. Menggeliatnya pasar properti juga membawa berkah bagi para broker atau agen pemasaran properti.

Bisnis ini termasuk bisnis besar dengan modal kepercayaan.
— Amir Karamoy

Tak heran, bisnis broker properti saat ini semakin moncer. Salah satu perusahaan broker properti yang ikut menikmati keberkahan itu adalah PT ERA Graharealty atau ERA Indonesia.

Sebagai perusahaan broker, ERA Indonesia aktif memasarkan beragam jenis properti, seperti pertokoan, vila, kantor, hotel, mal, rumah, dan apartemen. Sejak 1992, perusahaan broker dari Negeri Paman Sam ini langsung menawarkan waralaba kepada calon investor yang berminat menjadi mitra. Hingga kini, ERA Indonesia telah memiliki 130 mitra di 17 kota besar di Indonesia.

“Pada bulan Januari 2012 ini sudah ada tiga mitra lagi yang bergabung,” kata Presiden Direktur ERA Indonesia, Darmadi Darmawangsa, Senin (6/2/2012).

ERA menawarkan satu paket kemitraan bernama paket member broker senilai Rp 170 juta. Itu belum termasuk pungutan pajak pertambahan nilai (PPN) 10% sebesar Rp 17 juta. Paket ini menawarkan masa kontrak kerja sama selama lima tahun. Fasilitas yang didapat mitra antara lain pelatihan dasar dan lanjutan, buku panduan, dokumen contoh surat perjanjian, konsultasi manajemen, media promosi dan komunikasi.

Selain itu, mitra juga secara otomatis akan bekerja sama dengan sejumlah lembaga keuangan yang menjadi mitra ERA Indonesia, seperti Sinarmas dan ABDA. Selain membayar franchise fee dan PPN, mitra juga perlu menyiapkan biaya lain untuk sewa kantor berikut perlengkapannya. Perlengkapan kantor ini meliputi komputer, printer, scanner, internet, mesin faksimili, AC split empat unit, mesin PABX, tambahan saluran telepon dan sebagainya.

Darmadi menghitung, biaya sewa kantor dan perlengkapan ini mencapai sekitar Rp 180 juta. Di luar itu, mitra juga perlu menyiapkan biaya pemasaran, seperti spanduk, papan nama, iklan koran, majalah dan brosur. Biaya pemasaran ini diperkirakan mencapai Rp 48 juta per tahun.

Selain itu, masih ada biaya karyawan, telepon, listrik dan lain-lain yang diperkirakan mencapai Rp 126 juta per tahun. Darmadi menjanjikan, mitra balik modal dalam enam sampai dua tahun.

“Tergantung omzet mitra,” ujarnya.

Omzet mitra sendiri berbeda-beda, tergantung kinerja mitra. Tapi, sebagai gambaran, jika mitra bisa menjual properti seharga Rp 40 miliar dalam setahun, maka mitra akan mendapat komisi Rp 1,2 miliar atau rata-rata Rp 100 juta per bulan. Itu dengan asumsi, komisi mitra sebesar 3% dari harga jual properti.

Amir Karamoy, Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia bilang, prospek bisnis broker properti di Indonesia masih cerah. Hanya, bisnis ini perlu diperkuat sumber daya manusia yang gigih mencari konsumen.

“Bisnis ini termasuk bisnis besar dengan modal kepercayaan,” ujarnya. (Noverius Laoli)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s